Gagasan untuk menulis riwayat hidup Buddha dengan ilustrasinya muncul dari Handaka Vijjānanda pada akhir tahun 2002. Ia meminta saya untuk
mempersiapkan naskahnya. Untuk ilustrasinya, ia meminta bantuan dari Kyaw Phyu San, seorang pelukis cat air yang terkenal di Myanmar. Sejak saat itulah kami bahu membahu untuk menuntaskan proyek ini.

Dewasa ini, kita bisa menjumpai banyak buku yang mengulas riwayat Buddha. Sebagian buku tersebut memaparkan kelahiran Pangeran Siddhattha sampai pencerahan-Nya, dan sebagian lainnya sampai wafat-Nya. Namun tak satu pun dari bukubuku itu yang memaparkan kisah hidup Buddha secara lengkap. Jika Anda berharap bahwa buku ini memuat riwayat Buddha secara lengkap, Anda hanya akan kecewa. Sumber yang paling lengkap untuk riwayat Buddha tiada lain adalah kitab suci Buddhis (Tipiṭaka) itu sendiri.

Di Myanmar, negeri tempat saya melewatkan waktu untuk menulis buku ini, terdapat sebuah risalah yang panjang mengenai riwayat Buddha. Risalah ini ditulis oleh seorang bhikkhu yang sangat terpelajar, Bhaddanta Vicittasārābhivaṁsa—yang lebih dikenal dengan nama Miṅgun Sayādaw. Beliau dapat mengingat secara lengkap keseluruhan Tipiṭaka, yang terdiri dari empat puluh kitab tebal. Selain itu, beliau juga dapat mengingat dengan baik Aṭṭhakathā (Kitab-Kitab Komentar) dan Ṭīkā (Kitab-Kitab Subkomentar). Karena itulah beliau mendapatkan gelar Tipiṭakadhara Dhammabhaṇḍāgārika yang merupakan gelar kehormatan tertinggi untuk kepiawaian akan ajaran Buddha. Risalah yang disusun beliau telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul The Great Chronicle of Buddhas. Risalah ini terdiri dari enam bagian yang termuat dalam sepuluh jilid. Tanpa mengurangi rasa hormat saya yang mendalam pada beliau, menurut saya risalah panjang ini pun belum bisa dianggap lengkap. Di dalamnya, kita tidak akan menjumpai kisah Sunīta, Sopāka, Aṅgulimāla, dan beberapa kisah lainnya. Jika demikian, Anda mungkin bertanya: “Apakah riwayat Buddha yang lengkap tidak ada?” Jawabannya: tentu saja ada, namun kisah lengkap ini, sekali lagi, hanya terdapat dalam Tipiṭaka dan dalam Kitab-Kitab Komentar dan Sub-komentar itu sendiri. Masalahnya adalah bahwa materi tersebut terserak dalam kitab-kitab yang tebal itu, sehingga kita perlu mengumpulkan dan menata ulang materi tersebut untuk mendapatkan kisah lengkapnya secara kronologis.

Saya telah memilih enam puluh sembilan kisah yang mewakili riwayat Buddha. Narasinya dimulai dari kehidupan lampau Buddha sebagai Sumedha, yang kemudian berlanjut pada kelahiran-Nya yang terakhir sebagai Bodhisatta Pangeran Siddhattha, empat puluh lima tahun masa pembabaran Dhamma setelah Ia menjadi Buddha, sampai Parinibbāna-Nya. Narasi dalam buku ini juga mencakup bagaimana para siswa-Nya melestarikan, mengembangkan, dan menyebarkan ajaran-Nya, generasi demi generasi, sampai abad kedua puluh satu. Dengan membaca buku ini, bab demi bab, Anda akan memperoleh gambaran lengkap mengenai hidup Buddha. Anda akan menjumpai pelbagai sisi kehidupan-Nya, para siswa-Nya, dan para ‘seteru’-Nya. Anda juga akan melihat bagaimana Buddha mengatasi, menasihati, dan menuntaskan masalah-masalah kehidupan yang menghadang umat manusia lebih dari 2.500 tahun yang lalu, namun yang masih kita jumpai sampai saat ini.

Anda akan menjumpai Kisāgotamī, seorang ibu muda yang menjadi gila karena putranya yang masih kecil mendadak mati. Karena khawatir mertua dan suaminya bakal membenci dirinya, ia tidak rela menerima kematian putranya. Sembari meyakinkan diri bahwa putranya hanyalah sakit, ia mengunjungi rumah ke rumah mencoba mencari obat bagi putranya. Kejadian ini mengingatkan kita pada para ibu yang dewasa ini merasa tertekan akibat kematian anak-anaknya. Sebagaimana Paṭācārā yang hilang kewarasannya karena suami, anak-anak, dan keluarganya mati
satu per satu dalam satu hari, demikian pula dewasa ini ada orang yang menjadi gila akibat kematian orangtua, suami, istri, anakanak, kekasih, ataupun akibat kehilangan harta benda mereka. Anda akan mengetahui bahwa Yang Terberkahi, Yang Mahatahu sekalipun tidak bisa menghindari akibat perbuatan-Nya pada masa lampau. Seorang siswa-Nya mengkhianati dan mencoba membunuh-Nya. Sementara itu para guru agama lain yang merasa iri berusaha dengan berbagai cara untuk memfitnah, mempermalukan, ataupun berdebat dengan-Nya di depan khalayak ramai. Sebaliknya, Ia juga merupakan guru yang dicintai, disanjung, dijunjung, dimuliakan, dan dihormati banyak orang. Namun cara Yang Terberkahi mengatasi liku-liku kehidupan mengukuhkan-Nya sebagai guru spiritual yang paling agung selama ini.

Selain itu, Anda juga akan mengetahui sikap Yang Terberkahi terhadap orangtua-Nya, putra-Nya, para siswa-Nya, para ‘musuh’-Nya, guru agama lain, dan seterusnya. Namun yang paling penting adalah bagaimana Yang Terberkahi menunjukkan kita jalan menuju kebahagiaan tertinggi, yang unik dalam ajaran Buddha, yang tidak dijumpai dalam pandangan agama lain. Jalan menuju kebahagiaan tertinggi terbuka bagi semua makhluk, tanpa pembedaan ras, kasta, jenis kelamin, kebangsaan, status ekonomi, tingkatan sosial, ataupun atribut lainnya. Jalan ini malahan juga terbuka bagi para makhluk di alam surgawi dan alam rendah.

Pokok-Pokok Kontroversi

Di sini, saya ingin memaparkan beberapa pokok kontroversi serta ketidakpastian yang saya jumpai selama proses penyusunan buku ini. Sebagaimana yang saya sebutkan sebelumnya, riwayat hidup Buddha dan ajaran-Nya tersebar dalam Tipiṭaka – yang terdiri banyak jilid – serta Aṭṭhakathā dan Ṭīkā. Kita tidak bisa memperoleh kisah lengkapnya dari Tipiṭaka semata. Sebagai contoh, Kitab Dhammapada Pāḷi dalam Tipiṭaka terdiri atas 423 bait syair indah yang dilantunkan oleh Yang Terberkahi. Namun ada juga bait syair yang diucapkan Yang Terberkahi dan yang hanya terdapat dalam Aṭṭhakathā dari Dhammapada; demikian pula halnya dengan beberapa kisah lainnya. Karena itu, Kitab Aṭṭhakathā tidak saja memberikan penjelasan terhadap kata-kata dan tata bahasa Pāḷi, namun kitab ini juga mengandung kisah-kisah yang terkait.

1 Ānanda atau gajah kerajaan?

Di antara ketujuh makhluk yang lahir bersamaan dengan Bodhisatta, Ānanda disebutkan dalam Jātaka Aṭṭhakathā dan Buddhavaṁsa Aṭṭhakathā, namun Manorathapūraṇī (Kitab Komentar untuk Aṅguttara Nikāya) menyebutkan gajah kerajaan yang bernama Ārohanīya alih-alih Ānanda􀀁keenam makhluk lainnya sama seperti yang disebutkan dalam kedua kitab sebelumnya. Menghadapi ketidakpastian ini, saya memutuskan untuk menempatkan Ānanda dalam buku ini dengan pertimbangan bahwa Jātaka Aṭṭhakathā dan Buddhavaṁsa Aṭṭhakathā lebih menekankan penjelasan terhadap kisah hidup Bodhisatta, sementara Kitab Manorathapūraṇī lebih cenderung berisi penjelasan terhadap sutta.

2 Senānigama?

Pada pagi hari sebelum Bodhisatta mencapai Pencerahan, Sujātā mempersembahkan semangkuk nasi susu kepada-Nya. Dalam buku The Buddha and His Teachings, tertulis bahwa Sujātā merupakan putri seorang hartawan di kota niaga Senāni. Namun dalam buku The Great Chronicle of Buddhas, Sujātā merupakan putri seorang hartawan yang bernama Senāni yang tinggal di kota niaga Sena. Papañcasūdanī (Kitab Komentar untuk Majjhima Nikāya) menyebutkan bahwa Senānigama berarti “kota niaga Sena” karena tempat itu pernah dihuni prajurit. Kitab ini juga memberikan penjelasan lain bahwa Senānigama juga berarti “Senāni-gāma” atau “Desa Senāni”, tempat Senānī, ayah Sujātā, berdiam. Sāratthappakāsinī (Kitab Komentar untuk Saṁyutta Nikāya) menjelaskan bahwa Senānigama merupakan tempat yang pernah didiami prajurit, dan bahwa setelah itu Senānī, ayah Sujātā, berdiam di kota niaga (nigama) itu. Dari berbagai penafsiran tersebut, saya memilih memakai penjelasan dalam Kitab Sāratthappakāsinī, dengan pertimbangan bahwa Senānī adalah hartawan yang biasanya tinggal di desa yang cukup maju, yaitu di sebuah kota niaga (nigama) alih-alih di desa biasa (gāma).

3 Perumpamaan menala tali kecapi

Bodhisatta khusyuk menjalani pertapaan keras (dukkaracariya) selama enam tahun di Hutan Uruvelā. Pada akhir enam tahun tersebut, tatkala berada di ambang kematian, Ia mendengar sekelompok gadis yang tengah melewati tempat-Nya berlatih. Gadis-gadis itu tengah mendendangkan sebait syair bahwa kecapi akan menghasilkan suara yang merdu hanya jika talinya ditala tidak terlalu kendur dan tidak terlalu kencang. Perumpamaan ini bisa dijumpai dalam beberapa kitab yang berisi riwayat hidup Buddha. Akan tetapi, saya tidak menemukannya dalam Kanon Pāḷi. Sebagai catatan, Kitab Mahāvagga dalam Vinaya Piṭaka juga menyebutkan perumpamaan sejenis. Dalam perumpamaan itu, Yang Terberkahi menasihati Bhikkhu Soṇa Koḷivisa yang berlatih meditasi jalan dengan terlalu keras.

4 Pencapaian kesucian Sotāpatti oleh para Bhikkhu Pañcavaggiyā

Saya mendapatkan bahwa sebagian informasi dalam Aṭṭhakathā berbeda dengan informasi dalam Kanon Pāḷi. Salah satu contohnya adalah pencapaian tataran Sotāpatti oleh para Bhikkhū Pañcavaggiyā. Kitab Mahāvagga dalam Vinaya Piṭaka menyebutkan bahwa Vappa dan Bhaddiya mencapai tataran Sotāpatti pada hari pertama dari bulan susut Sāvana, sementara Mahānāma dan Assaji pada hari kedua dari bulan yang sama. Namun menurut Samantapāsādikā (Kitab Komentar untuk Vinaya Piṭaka), Vappa mencapai tataran Sotāpatti pada hari pertama dari bulan susut Sāvana, Bhaddiya pada hari kedua, Mahānāma pada hari ketiga, dan Assaji pada hari keempat. Dari contoh ini kita lihat bahwa Kitab-Kitab Komentar sangatlah penting, namun perlu ditelaah secara saksama.

5 Wafatnya Raja Suddhodana

Dalam kisah Kunjungan Pertama Buddha ke Kampung Halaman (Bab 30), tatkala Raja Suddhodana tengah sakit keras, Yang Terberkahi datang dan membabarkan Dhamma yang menuntunnya hingga mencapai tataran Arahatta. Namun karena sakit dan tua, ia wafat sebagai Arahā awam. Di sini saya ingin memaparkan sebuah pendapat lain: dalam buku (1) The Buddha and His Teachings, (2) Buddha: His Life & Historical Survey of Early Buddhism, dan (3) Buddha and His Disciples, Raja Suddhodana wafat setelah menikmati kebahagiaan tataran Arahatta selama tujuh hari.

Dalam kitab Milinda Pañhā: the Questions of King Milinda, Bhikkhu Nāgasena menjelaskan kepada Raja Milinda bahwa ada dua kemungkinan bagi seorang perumah tangga yang telah mencapai tataran Arahatta: ia harus menjalani kehidupan sebagai bhikkhu pada hari itu juga atau, jika tidak, ia akan wafat dan mencapai Nibbāna Akhir.

6 Telunjuk atau ibu jari?

Dalam kisah Aṅgulimāla, Si Kalung Jari (Bab 54), saya menjumpai satu kontroversi lagi, yaitu apakah Aṅgulimāla memotong ibu jari ataukah telunjuk dari para korbannya. Menurut Acharya Buddharakkhita dalam bukunya Halo’d Triumph, Aṅgulimāla memotong ibu jari dari para korbannya, yang kemudian dijadikan sebagai kalung. Menurut cerita yang diterima secara umum di Myanmar, sebagaimana yang tertulis dalam buku Life of the Buddha and His Teachings, Aṅgulimāla memotong telunjuk dari para korbannya. Namun, jika kita menelaah Aṅgulimāla Sutta dalam Majjhima Nikāya, kita tidak akan mengetahui secara pasti apakah Aṅgulimāla memotong ibu jari ataukah telunjuk para korbannya. Di sana hanya disebutkan bahwa Aṅgulimāla memotong jari para korbannya. Selain itu, Kitab Aṭṭhakathā dan Ṭīkā juga tidak memberikan informasi pasti mengenai hal itu. Menghadapi kontroversi ini, saya memutuskan untuk semata mengikuti Kanon Pāḷi, guna menghindari kerancuan jari mana yang sebenarnya dipotong Aṅgulimāla.

7 Kapan Mahāpajāpatī Gotamī memohon penahbisan dari Buddha?

Dalam bukunya The Buddha and His Teachings, Nārada Mahāthera menyatakan bahwa tatkala Yang Terberkahi tengah berdiam di Taman Nigrodha untuk menuntaskan sengketa antara suku Sākya dan Koliya, Mahāpajāpatī Gotamī mendekati dan memohon-Nya agar mengizinkan wanita memasuki Saṁgha. Hal ini terjadi sebelum masa kediaman musim hujan (vassāvāsa) yang kelima dari Buddha.

Namun dalam penelitian, saya menemukan bahwa sebelum masa kediaman musim hujan yang kelima dari Buddha, suku Sākya dan Koliya berada dalam sengketa hebat dan keduanya siap berperang untuk berebut air Sungai Rohiṇī. Yang Terberkahi datang ke medan perang di dekat sungai itu dan mendamaikan kedua belah pihak. Setelah itu, Yang Terberkahi menuju ke Mahāvana, di dekat Kapilavatthu, dan tinggal di sana bersama lima ratus pangeran Sākya dan Koliya yang kemudian ditahbiskan sebagai bhikkhu. Setelah itu, Yang Terberkahi menuju ke Mahāvana, di dekat Vesālī, tempat Ia melewati musim hujan-Nya yang kelima.

Di sini saya ingin memperjelas bahwa selama kunjungan yang kedua dari Yang Terberkahi ke Kapilavatthu untuk menuntaskan sengketa tersebut, Ia tidak berdiam di Taman Nigrodha, namun di Mahāvana, dekat Kapilavatthu. Karena itu, dalam masa tersebut Mahāpajāpatī Gotamī tidak menghadap Yang Terberkahi. Memang benar bahwa Mahāpajāpatī Gotamī
menghadap Yang Terberkahi di Taman Nigrodha tatkala Ia tengah berdiam di sana, namun kejadian tersebut terjadi selama kunjungan-Nya yang pertama ke Kapilavatthu, bukan selama kunjungan-Nya yang kedua. Karenanya, jelas pula bahwa Mahāpajāpatī Gotamī memohon penahbisan selama kunjungan- Nya yang pertama, dan bahwa ia harus menunggu selama kurang lebih empat tahun sebelum akhirnya Yang Terberkahi
mengizinkan dirinya dan kelima ratus putri kerajaan Sākya dan Koliya untuk memasuki Saṁgha Bhikkhunī selama masa kediaman musim hujan-Nya yang kelima di Mahāvana, dekat Vesālī.

Di sini, diharapkan agar para pembaca yang teliti mengetahui dan tidak menjadi bingung bahwa sebenarnya terdapat dua hutan belantara dengan nama yang sama, Mahāvana. Hutan yang pertama adalah Hutan Mahāvana di dekat Kapilavatthu, tempat Yang Terberkahi tinggal setelah mendamaikan sengketa antara suku Sākya dan Koliya, sekaligus tempat Ia membabarkan Mahāsamaya Sutta. Hutan kedua adalah Hutan Mahāvana di dekat Vesālī, tempat Yang Terberkahi melewatkan masa kediaman musim hujan-Nya yang kelima, dan saat Ia memperkenankan kaum wanita untuk memasuki Saṁgha.

8 Tak terlacaknya waktu kejadian

Untuk sebagian kisah dalam buku ini, saya tidak berhasil melacak waktu kejadiannya. Ini meliputi kisah Sopāka, Sunīta, Pūtigatta Tissa, Kisāgotamī, Paṭācārā, Upāli, Maṅgala Sutta, dan Mettā Sutta. Kanon Pāḷi selalu menunjukkan tempat kejadian. Akan tetapi, sepertinya Kanon Pāḷi tidak terlalu memberikan perhatian pada waktu kejadian. Bagaimanapun juga, kadang-kadang kita bisa memperoleh informasi tambahan dari Aṭṭhakathā yang memungkinkan kita menghubungkan kisah yang satu dengan lainnya dalam urutan yang tepat.

Saya telah berusaha mengatasi masalah ini dengan mempertimbangkan tempat berlangsungnya peristiwa dan mencoba menghubungkannya dengan tahun-tahun yang mungkin bersesuaian dari masa pembabaran Dhamma oleh Yang Terberkahi, serta dengan mempertimbangkan kejadian sebelum dan sesudahnya sebelum akhirnya menempatkan kisah tersebut di antara kisah-kisah lainnya. Sebagai contoh, walaupun Yang Terberkahi melewatkan masa kediaman musim hujan di Rājagaha, kenyataannya memang benar bahwa ini tidak berarti bahwa Ia berdiam di sana sepanjang tahun. Menurut Aturan Disiplin (Vinaya), seorang bhikkhu harus berdiam di tempat tertentu selama tiga bulan selama musim hujan, dan ia hanya diizinkan bepergian selama sembilan bulan selebihnya. Dengan mempertimbangkan hal ini, pendekatan saya tidak dapat dikatakan sepenuhnya tepat. Pendekatan ini juga tidak bisa menuntaskan persoalan ini sepenuhnya, namun yang saya tawarkan adalah cara untuk menyelesaikan permasalahan sejenis dan untuk membuka ruang bagi pembaca yang teliti untuk melakukan telaah atau penelusuran sendiri secara lebih mendalam.

Perkenankan saya memberikan dua contoh. Kisah pertama, Cinta Kasih Tanpa Pilih Kasih (Bab 49), terjadi di Wihara Jetavana di Sāvatthi, menjelang saat memasuki masa kediaman musim hujan. Ketika muncul masalah terhadap kelima ratus bhikkhu di hutan tempat mereka melewatkan masa kediaman musim hujan, mereka meninggalkan tempat itu dan menghadap Yang Terberkahi untuk meminta nasihat-Nya. Di sini, kita mengetahui bahwa saat itu Yang Terberkahi tengah melewati masa berdiam musim hujan di Wihara Jetavana di Sāvatthi. Dan menurut kronologinya, Ia melewatkan masa tersebut di sana mungkin mulai tahun keempat belas dari masa pembabaran Dhamma-Nya, atau bahkan setelah itu, yaitu dari tahun kedua puluh satu sampai keempat puluh empat. Dalam
konteks ini, saya menyimpulkan bahwa kisah tersebut terjadi pada tahun keempat belas dengan menganggap bahwa Mettā Sutta dibabarkan oleh Yang Terberkahi pada salah satu kurun waktu dalam kedua puluh tahun pertama dari pembabaran Dhamma-Nya (Paṭhama Bodhi Kāla).

Kisah kedua, Berkah Utama (Bab 48), merupakan sutta yang dibabarkan oleh Yang Terberkahi kepada sesosok dewa di Wihara Jetavana di Sāvatthi dalam kurun waktu tengah malam—dewa tersebut diikuti oleh banyak sekali dewa dan brahmā dari sepuluh ribu tata dunia. Seperti halnya Aṭṭhakathā, sutta tersebut tidak memberikan informasi lebih lanjut. Di sini, kita tidak tahu apakah peristiwa tersebut terjadi selama kediaman musim hujan. Jika benar, kita bisa menyelesaikan masalah ini dengan cara yang sama seperti halnya dengan Mettā Sutta. Jika tidak, akan lebih sulit bagi kita untuk memperkirakan waktunya secara tepat karena Yang Terberkahi mungkin pernah tinggal sementara di wihara tersebut selama masa pengembaraan-Nya, mulai dari saat setelah Wihara Jetavana dibangun sampai pada tahun keempat puluh lima dari masa pembabaran Dhamma-Nya. Dengan pertimbangan bahwa selisih pendapat mengenai berkah utama (maṅgala kolāhala) berlanjut selama dua belas tahun, saya berasumsi bahwa Yang Terberkahi membabarkan sutta ini dalam salah satu periode selama dua puluh tahun pertama dari masa pembabaran Dhamma-Nya.

Kronologi Pembabaran Dhamma Oleh Buddha

Pangeran Siddhattha mencapai Pencerahan dan menjadi Buddha pada umur tiga puluh lima tahun. Sejak itu, Ia mengajarkan Dhamma tanpa kenal lelah selama empat puluh lima tahun. Selama dua puluh tahun pertama masa pembabaran Dhamma ini, Yang Terberkahi melewatkan masa berdiam musim hujan di berbagai tempat. Namun, selama dua puluh lima tahun terakhir, Ia melewatkan sebagian besar masa berdiam-Nya di
Sāvatthi.

Berikut terlampir susunan kronologi pembabaran Dhamma oleh Buddha, tempat Ia melewatkan musim hujan, dan peristiwa-peristiwa menonjol yang terjadi pada setiap tahunnya.

Tahun pertama (588 SM)

Tempat kediaman musim hujan: Migadāya (Taman Rusa), Isipatana, di dekat Bārāṇasī.

Peristiwa utama: Buddha membabarkan sutta pertama Dhammacakkappavattana Sutta, Anattalakkhaṇa Sutta, dan Ādittapariyāya Sutta; mengalihyakinkan kelima petapa (Pañcavaggiyā); mendirikan Persamuhan Bhikkhu (Saṁgha Bhikkhu) dan Tiga Pernaungan (Tisaraṇa); mengalihyakinkan Yasa dan kelima puluh empat sahabatnya; mengutus para misionari pertama; mengalihyakinkan ketiga puluh pangeran Bhaddavaggiyā; mengalihyakinkan ketiga Kassapa bersaudara beserta seribu orang pengikut mereka.

Tahun kedua–keempat (587–585 SM)

Tempat kediaman musim hujan: Veḷuvanārāma (Wihara Hutan Bambu), di dekat Rājagaha.

Peristiwa utama: Buddha memenuhi janji kepada Raja Bimbisāra; menerima Wihara Veḷuvana sebagai pemberian dana; menyabdakan Ovāda Pātimokkha; menunjuk Sāriputta dan Moggallāna sebagai siswa bhikkhu utama (aggasāvaka); mengunjungi Kapilavatthu; mempertunjukkan Mukjizat Ganda (Yamaka Pāṭihāriya); menahbiskan Pangeran Rāhula dan Pangeran Nanda; mengukuhkan Raja Suddhodana, Ratu Mahāpajāpatī Gotamī, serta Yasodharā ke dalam arus kesucian; menahbiskan keenam pangeran Sākya; bertemu dengan Anāthapiṇḍika; menerima Wihara Jetavana sebagai pemberian dana; bertemu dengan Raja Pasenadi Kosala; mendamaikan sengketa antara suku Sākya dan Koliya; membabarkan Mahāsamaya Sutta.

Tahun kelima (584 SM)

Tempat kediaman musim hujan: Kūṭāgārasālā (Balairung Puncak), Mahāvana, di dekat Vesālī.

Peristiwa utama: wafatnya Raja Suddhodana; Buddha mengizinkan Mahāpajāpatī Gotamī bersama kelima ratus putri untuk menjadi bhikkhunī; mendirikan Saṁgha Bhikkhunī; perdebatan dengan Saccaka yang dicatat dalam Cūḷasaccaka Sutta; pertemuan kedua dengan Saccaka yang dicatat dalam Mahāsaccaka Sutta; membabarkan Dakkhiṇavibaṅga Sutta.

Tahun keenam (583 SM)

Tempat kediaman musim hujan: Maṅkulapabbata (Bukit Maṅkula), di dekat Kosambī.

Peristiwa utama: Ratu Khemā menjadi bhikkhunī dan kemudian ditunjuk sebagai salah satu dari kedua siswi bhikkhunī utama bersama dengan Uppalavaṇṇā; Buddha melarang siswa-Nya mempertunjukkan mukjizat demi keuntungan pribadi dan harga diri mereka sendiri; melakukan Mukjizat Ganda.

Tahun ketujuh (582 SM)

Tempat kediaman musim hujan: Surga Tāvatiṁsa.

Peristiwa utama: Buddha melakukan Mukjizat Ganda; membabarkan Abhidhamma di Surga Tāvatiṁsa; difitnah oleh Ciñcamāṇavikā.

Tahun kedelapan (581 SM)

Tempat kediaman musim hujan: Bhesakalāvana (Hutan Bhesakalā), di dekat Suṁsumāragiri, Distrik Bhaggā.

Peristiwa utama: Pangeran Bodhirājakumāra mengundang Buddha ke Kokanada—istana barunya—untuk menerima dana makanan; membabarkan Puṇṇovāda Sutta; Puṇṇa mengunjungi Sunāparanta.

Tahun kesembilan (580 SM)

Tempat kediaman musim hujan: Ghositārāma (Wihara Ghosita), Kosambī.

Peristiwa utama: Māgandiyā membalas dendam; sengketa para bhikkhu di Kosambī.

Tahun kesepuluh (579 SM)

Tempat kediaman musim hujan: Hutan Rakkhita, di dekat Desa Pārileyyaka.

Peristiwa utama: karena terjadi sengketa yang berkepanjangan di antara para bhikkhu di Kosambī, Buddha akhirnya menyendiri di Hutan Rakkhita, di dekat Desa Pārileyyaka, ditemani oleh gajah Pārileyyaka. Pada penghujung kediaman musim hujan tersebut, Ānanda, atas nama para warga Sāvatthi, mengundang Buddha untuk kembali ke Sāvatthi. Para bhikkhu Kosambī yang bersengketa tersebut kemudian memohon maaf
kepada Buddha dan kemudian menyelesaikan sengketa mereka.

Tahun kesebelas (578 SM)

Tempat kediaman musim hujan: Dakkhiṇāgiri, desa tempat tinggal Brahmin Ekaṇāḷā.

Peristiwa utama: Buddha mengalihyakinkan Brahmin Kasi Bhāradvāja; menuju ke Kammāsadamma di Negeri Kuru serta membabarkan Mahāsatipaṭṭhāna Sutta dan Mahānidāna Sutta.

Tahun kedua belas (577 SM)

Tempat kediaman musim hujan: Verañjā.

Peristiwa utama: Buddha memenuhi undangan seorang brahmin di Verañjā untuk melewatkan kediaman musim hujan di sana. Sayangnya, waktu itu terjadi bencana kelaparan di sana. Akibatnya, Buddha dan para siswa-Nya hanya memperoleh makanan mentah—yang biasanya diberikan kepada kuda—yang dipersembahkan oleh sekelompok pedagang kuda.

Tahun ketiga belas (576 SM)

Tempat kediaman musim hujan: Cāliyapabbata (Batu Cadas Cāliya).

Peristiwa utama: setelah melewati kediaman musim hujan, Buddha menuju ke Bhaddiya untuk mengalihyakinkan sang hartawan Meṇḍaka, istrinya Candapadumā, putranya Dhanañjaya, menantunya Sumanadevī, pembantunya Puṇṇa, serta Visākhā— cucu putrinya yang berumur tujuh tahun; mengalihyakinkan Sīha, seorang panglima di Vesālī yang sekaligus merupakan pengikut Nigaṇṭha Nātaputta; membabarkan Mahā Rāhulovāda Sutta.

Tahun keempat belas (575 SM)

Tempat kediaman musim hujan: Wihara Jetavana, Sāvatthi.

Peristiwa utama: putra dari Buddha, Rāhula, menerima penahbisan lanjut; Buddha membabarkan Cūḷa Rāhulovāda Sutta, Vammika Sutta, dan Sūciloma Sutta.

Tahun kelima belas (574 SM)

Tempat kediaman musim hujan: Nigrodhārāma (Taman Nigrodha), Kapilavatthu.

Peristiwa utama: wafatnya Raja Suppabuddha, ayah-mertua dari Buddha.

Tahun keenam belas (573 SM)

Tempat kediaman musim hujan: Kota Āḷavī.

Peristiwa utama: Buddha mengalihyakinkan Yaksa Āḷavaka.

Tahun ketujuh belas (572 SM)

Tempat kediaman musim hujan: Veḷuvanārāma, Kalandakanivāpa (suaka alam tempat memberi makan tupai hitam), di dekat Rājagaha.

Peristiwa utama: Buddha membabarkan Siṅgālovāda Sutta kepada perumah tangga muda Siṅgālaka.

Tahun kedelapan belas–kesembilan belas (571–570 SM)

Tempat kediaman musim hujan: Cāliyapabbata (Batu Cadas Cāliya).

Peristiwa utama: kisah putri seorang penenun; kisah Kukkuṭamitta, sang pemburu.

Tahun kedua puluh (569 SM)

Tempat kediaman musim hujan: Veḷuvanārāma, di dekat Rājagaha.

Peristiwa utama: Buddha menetapkan aturan-aturan Pārājika; menunjuk Ānanda sebagai pengiring tetap; pertemuan pertama dengan Jīvaka; mengalihyakinkan Aṅgulimāla; dituduh atas pembunuhan Sundarī; meluruskan pandangan salah Brahmā Baka; menundukkan Nandopananda.

Tahun kedua puluh satu–keempat puluh empat (568-545 SM)

Tempat kediaman musim hujan: Wihara Jetavana dan Wihara Pubbārāma, Sāvatthi.

Peristiwa utama: kisah mengenai Raja Pukkusāti; Buddha membabarkan Ambaṭṭha Sutta; penyerahan Wihara Pubbārāma sebagai dana; wafatnya Raja Bimbisāra; Bhikkhu Devadatta berusaha membunuh Buddha; menjinakkan Nāḷāgiri; Bhikkhu Devadatta menciptakan perpecahan di dalam Saṁgha; meninggalnya Bhikkhu Devadatta; mengalihyakinkan Raja
Ajātasattu; wafatnya Raja Pasenadi Kosala; membabarkan Sakka Pañhā Sutta.

Tahun keempat puluh lima (544 SM)

Tempat kediaman musim hujan: Beluvagāmaka, di dekat Vesālī.

Peristiwa utama: Buddha mengalihyakinkan Upāli, siswa utama Nigaṇṭha Nātaputta; membabarkan ketujuh kondisi kesejahteraan bagi para penguasa dunia dan para bhikkhu; menyampaikan ceramah Cermin Dhamma; menerima hutan mangga dari Ambapālī sebagai persembahan dana; wafatnya Sāriputta dan Moggallāna; membabarkan Empat Narasumber Utama (Mahāpadesa); menyantap sūkaramaddava; menerima petapa kelana Subhadda sebagai siswa terakhir; Buddha mencapai
Parinibbāna.

Keenam puluh sembilan ilustrasi dalam buku ini dirancang dengan pertimbangan berikut ini: postur tubuh, sikap tangan, serta umur Buddha dan lawan bicara-Nya, termasuk dimensi tempat dan waktu kejadian. Kerangka ilustrasi dirancang dengan cermat oleh Handaka Vijjānanda sehingga dapat menangkap peristiwa pokok yang terjadi dalam setiap kisah. Sementara itu, Kyaw Phyu San menoreh gagasan tersebut ke dalam karya seni yang indah dengan kepiawaiannya yang mengesankan.

Akhirnya, saya berharap agar segenap pembaca bisa terinspirasi oleh teladan agung yang telah ditunjukkan oleh Buddha sepanjang hayat-Nya. Semoga karya ini dapat memberikan sumbangsih kecilnya bagi kepustakaan Buddhis yang begitu luas di dunia ini. Selamat menyimak kisah demi kisah dalam buku ini dan selamat menikmati ilustrasinya.

Selanjutnya – Sumedha, Sang Bakal Buddha

©2021 Vihara Mahavira Graha Pusat. Semoga Semua Makhluk Berbahagia.

Log in with your credentials

Forgot your details?